Untukmu yang kini sedang beristirahat, entah beristirahat dari mencintai atau memperjuangkan sesuatu, tenangkanlah hati dan jiwa, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kuatkan lewat doa dan tanyakan pada hati perihal apa yang sebenarnya dicari. Jangan terburu-buru, ya!
More you might like
Memaknai Ke(tidak)hadiran
Hadirmu pernah membawaku sampai pada muara rasa bahagia
Melarutkan segala emosi ke dalam bentuk yang lebih bermakna
Cara pandangmu mengantarkanku sampai pada pemahaman baru tentang dunia
Meleburkan semua ego diri untuk bisa memahami dengan lebih bijaksana
Dari tiada jadi ada
Dari aku, kamu, jadi kita
Hingga yang kita tahu hanya : cinta, bahagia, dan selamanya
Namun lupa jika selamanya bukan aturan milik manusia
Yang kita punya hanya fana
Sampai pada waktu tidak ada jalan terang untuk apa yang kita anggap berbeda
Kita putuskan untuk berjalan tanpa ada di definisi yang sama lagi soal : cinta, bahagia, dan selamanya
Lekatnya rasa hampir membuat kita buta
Bahwa cinta kepada Tuhan haruslah melebihi cinta pada dunia dan seisinya
Karena menggantung harap pada manusia sudah pasti kecewa
Jika apa yang kita yakini tidak berakhir pada ujung yang sama
Harus sejauh apa kita memaksa?
Ketidakhadiranmu jadi bahan bakarku untuk bisa selalu percaya
Bahwa apapun yang sudah dituliskan-Nya untuk kita pasti akan datang pada waktunya
Sesuatu yang hilang mungkin tidak akan pernah kembali
Tapi akan selalu ada cara ia akan terganti
Espresso
Espresso was never my top choice. I am sure enough that I will not be able to cope with the bitterness it offers to my sweet tooth tongue. However, shaking hands to something we never tried before must be at least in our list, once.
Meeting you at first sight was described as receiving a cup of flavourlessness and perplexity. Out of the blue, your attendance emits an intoxicating air to my breath. Yet, you helped me rebuild my broken trust in this unfair universe workflow. You showed me how a thousand miles separation is not an excuse for two souls to detect each other’s existence.

(pic source : google)
In the midst of adapting the–slight of–sweetness that you bring to my life, I sense something else coming up. A drop of unbearable bitterness slowly kicked every sweet molecule I’ve been enjoying. It wipes away the cloud of confusement of what is your (final) flavour in my perception ; bitter.
The velvety sweet I recognized is a part where I believe it’s hidden for a long time in you. Some content of acidity level popped up, showing that perfection does not consist of a single taste. Regardless of how close the possibility of our dots will be, I think now is the time to let you go.
As it is said,
a perfect shot of espresso has a delicate balance of bitterness, sweetness, and sourness.
And,
you are the first espresso that I fearlessly observe until the last sip. It’s (mainly) bitter but I (gladly) did not leave the cup but took it instead.
LIGHT 12 (LIttle thouGHT)
We face uncertainty every single day. Whatever hasn’t come yet is a mystery. Too much time allocation for thinking allows us to develop huge terrifying future clips and stops the begin button we never pushed before. Our duty is limited to give it a try for what we think is worth fighting for but what kind of result we will own, it’s another story. It’s risky to just only depend on our endeavour, therefore we have to make it safer by combining it with one of the greatest weapons that humans can do to compete between what has already been destined for and what they wish for : praying.
In my point of view, as humans, we have no power to execute. Everything happens because of Allah’s permission. Without having it, no matter how hard the efforts we have given towards a wish, it is not going to ever happen. But when Allah says yes, no matter how impossible it is, it will find its way to be possible. The more intense our small talk with Allah about our dreams or even anything, the more likely we’ll be more willing to accept our faith regardless of whether we stick to our plan or not.
I can’t explain you much about behind the scene in how I finally arrived in this thought (because it is quite private, wqwq yea perhaps in other writing I’ll do share it), but do not ever underestimate about how powerful your words when you invest it in the last third of the night (close to Fajr) where Allah and the angels are watching and waiting for those of you who want to have an intimate discussion with them about your what you desires.
As an honest testimony, you’ll meet a package of surprising answers and directions in incredible ways. I’m mesmerised. A LOT.
So, [ I also tend to repeat this to myself even though it takes time to accept when things don’t work out in the way we want ], don’t stop. Keep your hopes lifted up to the sky, because when you keep delivering it repeatedly, there will be an action back to you as a response to what you are asking for.
Pray with a belief : whatever the answer, it’s the best thing you can own for now. Allah doesn’t want to see you sad. Allah wants to give you something better than what you’re praying for. You’ll see, insyaAllah. :)
Petualangan Arunika
Kepingan 6 - Rumah Keluarga Harissadananta, Bandung, Jawa Barat
Mungkin ada benarnya jika tak mendengarkan perkataan orangtua, kita pasti kena batunya juga. Sejak kecil diingatkan untuk tidak memakan makanan yang bukan diproduksi langsung di dapur dengan peralatan fancy milik keluarga Harissadananta, ia kemarin nekat memakan semuanya dalam satu waktu sekaligus bahkan tanpa memilah terlebih dahulu. Terbawa suasana pembicaraan oleh si pemandu, ia akhirnya tak bisa mengendalikan diri sendiri dan hari ini berakhir di kamarnya. Kondisinya lemas, wajahnya pucat, tenaganya seolah baru saja tersedot sesuatu hingga tak menyisakan sedikit pun energi untuk beraktivitas.
Sudah hampir delapan kali sejak pagi ini, ia bolak-balik kamar mandi. Ia merasakan lilitan cukup kencang di perut yang berujung pada pengeluaran isi dari saluran pencernaannya yang padahal menurutnya sudah tak ada lagi isinya karena hampir setiap jam terkuras dengan begitu cepat. Padahal, baru kemarin lidahnya bersalaman dengan aman dan damai dengan makanan-makanan yang ternyata punya rasa lezat diluar prediksinya sendiri.
“Jujur deh sama mama, kamu makan apa? Mama paham riwayat kesehatan kamu, belum pernah kamu diare separah ini..”ujar Ayu Harissadananta–terlihat cemas, panik, dan marah terefleksi dari bagaimana cara ia berbicara.
“Enggak aneh-aneh, ma. Tapi, mungkin aku aja yang ceroboh gak pilih-pilih makanannya dulu. Kemarin kepepet karena aku posisinya laper banget.”balas Arunika sekenanya.
“Oke, mama sudah panggilkan dokter. Ditunggu aja.”
Arunika segera meraih ponselnya dan mengirim pesan lewat satu-satunya sarana berkomunikasi–yaitu email–dengan orang yang ia pikir seharusnya bertanggung jawab soal hal ini. Si pemandu. Ya ampun, kenapa sampai hari ini ia tidak terpikir untuk menanyakan namanya? Bukankah perkenalan nama di awal itu sebenarnya adalah krusial?
“Aku diare ini, sedih deh..”tulis Arunika pada laman obrolan di gawainya. Kemudian tak lama ia kembali menghapusnya.”Tau gak? Gara-gara kemarin, aku diare..”lagi, Arunika menghapusnya dan menggaruk-garuk rambutnya, kebingungan kata-kata apa yang harus ia bilang. Bagaimanapun, sebenarnya dia tidak salah juga, tapi ya salah juga sedikit.
“Aku dapat hukuman langsung dari Allah karena durhaka sama orang tua. Sudah kubilang, merubah budaya keluarga itu susah.”
Terkirim.
Di tengah kondisi lemasnya, ia mencoba untuk meraih surat yang diterimanya seminggu yang lalu di bagian atas lemari baju setinggi 3 meter dengan bantuan sebuah kursi. Perlahan, kakinya menaiki kursi tersebut disusul tangannya yang coba meraih kotak tempat ia meletakkan kiriman terakhir dari neneknya itu. Belum sempat ia memastikan kertas itu ada di tangannya, tiba-tiba ia merasakan turbulensi yang tak biasa di sekitarnya. Kepalanya seolah diputar-putar dengan cepat dan beberapa detik berlangsung begitu lama dengan potongan cahaya lampu yang seolah redup-nyala diluar kendalinya. Dalam hitungan detik, Arunika ambruk ke lantai.
–
Ada sayup-sayup suara anak-anak kecil berlari tertangkap oleh daun telinganya. Entah ada dimana letaknya, suara gemericik air ikut ada di antara riuhnya suara tadi. Lewat kulit tangannya, ia merasakan ada hangat yang mencoba menggapai tubuhnya. Di tengah sapaan dari hangat yang ia pun tak mengerti berasal dari mana, ia rasakan seseorang ikut mengusap-usap pelan punggung tangannya. Tekstur kulitnya cukup lembut, maka ia meyakini bahwa orang tersebut adalah wanita.
“Arunika..”akhirnya sebuah suara membuat kepekatan matanya tiba-tiba melonggar hingga ia samar-samar bisa memastikan bahwa memang ada orang lain di ruangan ini selain dirinya. Tapi, dimanakah ia? Mengapa yang terlihat adalah tembok-tembok bernuansa putih polos tanpa hiasan dinding? Semakin jelas penglihatannya, ia memastikan bahwa ini bukan kamarnya dan dengan terkejut, ia melihat sang nenek duduk di pinggiran ranjang kasurnya.
Sebentar, apakah aku sudah menyusul nenek?
“Bagaimana, rasanya berjalan-jalan? Keluar dari lingkungan serba nyaman di rumah?”tanya sang nenek, dengan suara jelas. Arunika berusaha untuk bangun dari posisi terbaringnya. Masih diantara rasa tidak percaya bahwa akhirnya ia kembali bertemu dengan neneknya, ia seketika memeluk neneknya cukup kencang. Benar, ini nyata, bukan? Ia bisa merasakan aroma tubuh, derajat hangat, dan ciri yang khas pada neneknya.
“Lebih dari yang pernah aku bayangkan, nek. Aku bahkan merasa aku terlalu banyak berputar di satu titik yang sama semenjak kecil. Aku gak mau menyalahkan siapapun atas itu, termasuk mama dan papa. Karena mereka pun ada di situasi ini bukan karena permintaan, tapi tuntutan dari Harissadananta terdahulunya.”jawab Arunika, masih dalam setengah pelukan neneknya.
“Ini aku sekarang sudah bisa kumpul sama nenek lagi ya?”
“Ya belum, ka. Besok kamu ulang tahun.”jawab nenek kemudian perlahan melepaskan pelukannya karena ingin menatap cucu yang ditakdirkan lahir dengan kemiripan hampir identik dengan dirinya itu dengan seksama.”Kamu sudah diberi kesempatan belajar sesuatu yang tidak dipelajari Harissadananta yang lain. Nenek sengaja, karena hal seperti itu terlihat remeh padahal penting, bukan? Siapa sangka dari hanya berjalan di tengah hutan kamu bisa memaknai soal perjalanan jauh? Siapa sangka dari makanan pinggir jalan, cimol ya? Bisa bikin kamu menyadari pentingnya peduli soal keadaan sekitar. Ya, meskipun sekarang kamu jadi diare begini.”
“Arunika, hidup tidak akan statis. Ia dinamis. Keluarga kita belum ada di dalam zona pemikiran yang sama, maka mereka bisa jadi ada dalam bahaya karena tidak bersiap soal apapun. Kita tidak tahu di lima atau sepuluh tahun ke depan, dengan perubahan dunia yang semakin menjadi, barangkali nama kita sudah tidak dikenal orang lagi. Maka, merendahlah dan berbaurlah. Kamu sudah mempelajari dengan baik, lewat bantuan orang yang kamu sebut pemandu.”jelas nenek di tengah-tengah suara paraunya karena usia.
“Si pemandu itu siapa sih nek sebenarnya? Dia betulan teman nenek?”
Neneknya mengangguk.”Teman spesial karena dia sudah dalam proses panjang melalui seleksi sampai akhirnya terpilih buat ketemu kamu. Diantara tujuh miliar manusia di bumi, kita akan ditakdirkan untuk bersama dengan seseorang, Arunika. Maka, pilihlah dengan bijak. Nah, sebelum area tempat kamu mencari akan dipersempit oleh kriteria Ayu dan Candra, nenek sudah pilihkan agar kamu bisa tinggal memutuskan, mau bersamanya atau tidak. Atau mau cari lagi. Karena, teman hidup kita selain cerminan, adalah pilihan.”
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”
Arunika tidak siap dengan kalimat-kalimat di bagian akhir. Ia tiba-tiba jadi takut salah bersikap jika mereka berdua bertemu lagi.
–
“Ini diminum tiga kali sehari ya bu, sekali minum dua tablet. Kalau yang ini, sesudah makan satu tablet saja, dijeda kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Diberikan sampai gejala diarenya hilang ya bu.”jelas dokter yang menjadi one-call-away-doctor keluarga Harissadananta kemudian meletakkan tiga plastik obat berisi masing-masing satu strip tablet.
Hampir saja Arunika melompat dari kasurnya, begitu melihat si pemandu kini berdiri nyaris hanya terpisah satu atau dua hasta darinya. Tetap, dengan setelan parasutnya. Kini berwarna hijau army. Ah, hangat sekali bertemu dengan nenek, meskipun itu semua ia alami melalui mimpi.
“Kok?”
“Cepat-cepat taubat ya anak durhaka. Kalau nggak, nanti kamu dikutuk.”ujar si pemandu. Sebentar, apakah ia berpindah lagi ke dimensi mimpi yang lain? Tapi, kali ini ia bisa memastikan dinding-dinding putih yang baru saja dilapisi sebuah wallpaper besar yang menyulap sekeliling kamarnya jadi miniatur tata surya. Selain itu, tingkat keempukan kasur ukuran king dengan springbed yang dijahit oleh seorang penjahit tersohor di New Zealand juga terasa begitu nyata.
“Kamu, bisa masuk gimana caranya? Emang dibolehin?”
“Boleh.”jawab si pemandu santai.”Aku kan masuknya sopan, dengan permisi, izin dulu. Termasuk sekarang sama kamu, baiknya kita kenalan dulu. Namaku, Fadlan. Maaf baru sempat memperkenalkan diri. Agenda kita kemarin sibuk banget kan?”
“Aku kan sudah ajak kamu kenalan pas di awal. Kamu bilang nanti.”
“Kadang sesuatu ditunda, supaya hasilnya lebih baik.”Fadlan menyengir.”Oh ya. Selamat mengulang bulan yang ke 276 kalinya.”ujar si pemandu sebelum ia sempat menambahkan sepatah dua patah kata.”Kalau kamu pengen memperbaiki generasi selanjutnya, kamu butuh teman untuk… membuat generasinya dulu kan?”
“EH,”kan. Arunika membatin. Ia jadi salah tingkah begini.
Nek, aku pilih yang ini saja. Pejalan jauh, cek. Rendah hati, cek. Baik dan bijak, cek. Lengkap.
Petualangan Arunika
Kepingan 5 - Alun-Alun Bandung, Balonggede, Jawa Barat
Malam ketika bintang-bintang hadir dengan jelas di sisi langit yang terlihat di balkon rumah mewah keluarga Harissadananta, Arunika duduk termenung ditemani secangkir coklat beramoma daun mint yang belum disentuhnya karena baru beberapa detik lalu terlarut sempurna dalam 250 mililiter air mendidih. Ia ingin sejenak meluruskan kaki-kakinya yang mencetak rekor dibawa kesana kemari tanpa istirahat yang mumpuni.
Perjalanan selama tiga hari yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa ia berjalan bersama orang yang baru dikenalnya dengan modal percaya bahwa memang neneknya yang sudah mengatur ini semua? Arunika ingin sekali bertanya pada sang nenek, tapi ia tahu tak ada lagi jalur komunikasi yang bisa digunakan kecuali melalui doa. Maka, ia hanya bisa meminta perlindungan jika memang si pemandu adalah seorang kriminal atau sejenisnya, maka lenyapkanlah segera. Tapi sejauh ini, Arunika harusnya banyak berterimakasih. Berkatnya, telinganya jadi mengenali berbagai suara spesies burung di tengah hutan kota, punya kesempatan saling pandang yang sangat dekat dengan langit, dan kesempatan menapakkan kaki di atas tanah berunsur salah satu unsur terbanyak di bumi.
Lebih jauh lagi, pengalaman itu diantarkan sepaket dengan tafsir yang ada bersamanya.
Memang doa bisa sebegitu kuatnya.
Saat ia menemui jalan buntu soal bagaimana cara untuk merubah diri dan sekitar, ia hanya punya doa yang setiap hari dipanjatkannya, dan di kirimkanlah cara yang tak biasa untuk ia bisa keluar dari masalahnya.
Sesuai dengan agenda pamungkas program ini, hari ini mereka akan ke pusat kota untuk wisata kuliner sederhana. Seumur hidupnya–jujur saja–yang ia kenal hanyalah makanan dengan takaran nutrisi yang pasti, diproses dari dapur rumahnya atau dari tempat yang teruji kebersihannya. Maka, bukan karena tak mau untuk membeli penganan pinggir jalan, tapi karena tak terbiasa, lama-lama ia segan mencoba.
Tempat berpetualangan (terakhirnya) : Alun-Alun Bandung
Baiklah, saatnya mendobrak budaya keluarga. Jajan jajanan di pedagang kaki lima. Semua juga diusahakan dulu saja, karena hasil kan bukan urusan kita.
“Beli dua porsi ya mang,”ujar si pemandu mengambil dua kursi bakso warna hijau.”Kita ini masuk sesi santai. Karena, makan gak akan nikmat kalau kita banyak pikiran. Makan dulu aja, merenungnya nanti saya kasih waktu tambahan.”
Di balik gerobak kaca, tahu-tahu–berwarna kuning dengan isian cacahan ikan tenggiri–berjajar rapi di atas wadah rotan dengan cepat dipotong diagonal lalu dibalur campuran tapioka, terigu dan daun bawang yang telah dilarutkan dengan air. Kesemuanya siap dilandaskan ke dalam tungku besar berisi minyak yang telah panas. Sisa cacahan ikan tenggiri sengaja ditambah tepung tapioka yang ditakar, kemudian dibentuk jadi adonan-adonan mungil–dinamai siomay–yang satu persatu dibalut kulit pangsit dan akan ikut menyelam beberapa menit di dalam minyak yang sama. Tada, kini semua telah berubah tekstur dan wujudnya jadi makanan paling dicari di kota ini.
Di lain sisi, serbuk kacang tanah goreng yang telah dicampur air–secukupnya–kemudian dituangkan sedikit demi sedikit kecap manis dan diaduk hingga mewujudkan kekentalan dan warna yang kelihatan legit untuk segera dicicipi.
“Batagor. Baso tahu goreng. Top banget ini, apalagi makan langsung di sini, panas-panas. Duduk sini."ujar si pemandu membuyarkan penyusunan memori dengan judul ‘tahapan membuat batagor’ di otak Arunika.
Penuh ragu, Arunika duduk di hadapan si pemandu dengan dua piring berisi tahu dan siomay yang telah bersama-sama dengan bumbu kacang siap memanjakan lidah Arunika untuk pertama kalinya. Dalam hatinya, ia dengan kuat melafalkan sugesti bahwa makanan ini aman, tidak akan membawa bahaya apapun padanya, karena semua orang disini pun makan makanan yang sama.
Oke, relax Arunika, makan saja. Jangan bikin malu.
Pada gigitan pertama, Arunika bisa merasakan gerahamnya berhasil melibas renyahnya potongan–baso tahu goreng alias batagor–dalam mulutnya seraya merasakan seluruh rasa gurih, pedas dan manis bersatu padu. Ia meyakini siapapun harus mencoba makanan ini dalam kondisi baru diangkat dari penggorengan. Walaupun nanti jadinya ‘hatahor hanas’ sih ya.
Sengaja menyisakan banyak ruang untuk makanan selanjutnya, kali ini, masih serumpun dalam komposisi dan cara penyajian yang hampir mirip dengan batagor, mereka bergeser ke penjual makanan lainnya.
Si pedagang mengeluarkan dua mangkuk putih yang kemudian dibubuhi sejumput bubuk garam, merica, vetsin dan taburan bawang goreng serta seledri sebelum dituangkan minyak sayur hasil racikannya sendiri. Lalu, dari dalam sebuah panci besar berisi air mendidih yang dibawa dari rumahnya hingga kesini, diangkatlah komponen-komponen penting dalam kudapan ini : satu tahu putih rebus, satu tahu coklat goreng, tiga siomay goreng, dan satu butir ukuran sedang bakso ayam. Jangan sampai ketinggalan, kuah bening yang telah direbus berjam-jam lamanya, tanpa permisi mengguyur isi dalam mangkuk untuk bersiap menciptakan sensasi rasa yang akan membuat yang menikmati pasti ingin menambah satu porsi lagi. Ini dia, cuanki.
"Kenapa sih namanya cuanki?"tanya Arunika ditengah melumat makanannya, hati-hati.
"Cari UAng jalaN kaKI. Cuanki.”
“Yang bener?”
“Bener. Gak percaya? Lihat penjualnya bawa kendaraan gak? Enggak kan? Nah ya itu dia jalan kaki.”
Berpuluh tahun menginjak tanah di kota ini, dia baru tahu cuanki itu singkatan dan malah tak ada hubungannya dengan isi di dalam mangkuknya.
Terakhir, sebagai teman bersantai untuk proses penafsiran hikmah, si pemandu mengenalkannya pada salah satu olahan khas tanah pasundan yang dibuat dari tepung tapioka atau diterjemahkan ‘aci’ dalam bahasa sunda. Iya! Cimol atau aci digemol, jadi jenis aci yang akhirnya sampai di lidah Arunika. Adonan dari tapioka, air dan bawang putih yang digoreng dan diberi macam-macam bumbu.
“Oke, makan-makannya sudah banyak. Pelajarannya dapet?”
Arunika masih mengunyah sisa-sisa terakhir potongan cimol yang maksimal tercampur bubuk pedas dan balado, karena ada di bagian paling bawah.”Apa ya.. Enak semua ini. Jajajan bandung, enak. Sayangnya, aku gak bisa bawa makanan-makanan ini ke rumah.”
“Nah, itu poinnya dapet. Apa masalahnya berarti?”
Arunika terdiam sejenak setelah menelan potongan cimol terakhirnya.
“Keluargaku.. tidak kenal ini semua, padahal enak."balas Arunika."Bisa kubilang tanah dan aset keluargaku, semua pusatnya ya di tanah pasundan ini. Tapi kita terlalu banyak membatasi diri, termasuk sama makanan-makanan seenak ini. Kalau mamaku tau aku makan ini. Besok, aku pasti dibawa ke dokter.”
“Tenang, nanti gak gitu lagi. Bisa bebas kapan aja beli ini.”
“Maksudnya…?”
Si pemandu hanya membalas dengan mengangkat kedua alisnya dan menyunggingkan senyum yang sangat mencurigakan.
Petualangan Arunika
Kepingan 4 - Kawah Putih, Ciwidey, Jawa Barat
Hasil melatih kekuatan otot di tempat gym selama hampir 2 tahun terakhir ternyata nyaris terasa sia-sia ketika akhirnya ia harus menaiki undakan terjal menuju bukit bebatuan kemarin siang. Efeknya, hari ini ia sesaat ingin menanggalkan kaki sementara untuk kemudian nanti digunakan kembali. Tapi, tak ada toleransi. Ia harus tetap melanjutkan perjalanan hari ini.
Oke, belajarlah dari pengalaman.
Hari ini, tak ada barang dengan harga pembelian nominal setara satu jam tangan lapis emas putih seberat lima gram melekat mengikutinya keluar rumah. Dengan sengaja, ia menggunakan pakaian usang–meskipun se usang-usangnya pakaian di rumah ini tidak sesusang di rumah kebanyakan dari kita–untuk berkamuflase untuk tidak terlihat sebagai seorang Harissadananta. Kemarin, di satu jam menuju senja, si pemandu sempat memberinya waktu untuk menyerap sari-sari pelajaran yang coba diajarkan alam meski untuk membantunya menguraikan kegundahan pencarian identitas di umurnya yang akan menjelang 23 dalam waktu kurang dari empat hari.
“Jadi, sudah terbayang mau jadi Harissadananta yang seperti apa?”
“Belum full. Masih samar-samar. Tapi, tetap saja, mendobrak budaya keluarga adalah tugas berat.”
“Ya, pelan-pelan. Saya lihat kamu memang satu jiwa sama nenek. Pembelajar cepat, cukup adaptif meskipun tetap banyak ngeluhnya. Manusiawi, lah.”timpal si pemandu.
“Sebetulnya, besok kita jadwal makan-makan. Tentunya, bukan makanan dengan porsi sedikit tapi harga menjerit di atas piring porselen mengkilap resto-resto dengan lampu mewah ya. Tapi kita akan makan makanan yang pasti kamu belum pernah makan. Aku bisa bilang, sebagai orang bandung, gak sah kamu tuh.”
“Makanan kayak gimana?”
“Nah, itu tandanya kamu memang belum pernah makan makanan ini.”balas si pemandu.”Tapi, kita taruh makan-makan di edisi terakhir. Saya mau ajak lagi ke satu tempat lainnya. Saya juga suka berkali-kali kesana. Tidur yang cukup, posisikan kaki senyaman mungkin, karena besok kita akan jalan lagi. Pakai kupluk, kalau mau kembaran sama saya.”
Begitulah pesan terakhir si pemandu sebelum pagi ini mereka bertemu lagi.
“Kaki aman?”
“Engga, sebenernya. Tapi yaudah. Nanti durhaka sama nenek, gitu kan?”
“Ahahaha, jangan cemberut atuh. Kita harus awali setiap perjalanan dengan aura yang positif. Aura negatif akan menghambat jalur komunikasi kamu dengan alam.”balas si pemandu.”Letsgo. Cie, berkupluk. Nanti fotolah kita.”
Kali ini, mereka akan naik ke wilayah lebih atas namun akan melihat sesuatu yang lebih dalam. Sebuah kawasan yang punya level kesohoran diatas dua destinasi sebelumnya, sehingga harus bersiap jika memang akan banyak kerumunan yang bisa membuyarkan daya inderanya untuk mencerna pelajaran baru.
Tempat berpetualang yang ketiga : Kawah Putih
Pada pijakan pertama, bagi Arunika, komposisi tanah yang mengenai alas kakinya terasa lain. Seperti ada kerikil-kerikil yang menusuk tapi tidak sampai melukai. Jika harus, tangannya mampu meraup segenggam pasir putih di tempat saat ini ia berdiri. Langit menyerukan eloknya perpaduan sempurna warna biru dan cyan dilengkapi helaian awan-awan yang bergerak malas menuju ke timur secara horizontal.
Sebuah kawah yang airnya dengan anggun memantulkan warna turqoise telah ada di sana bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Dalam beberapa suasana, air akan pasrah pada koloid yang diterjemahkan jadi warna apapun oleh langit diatasnya. Seolah memeluk kawah dan seisinya, tebing bebatuan tua nan raksasa–yang sebagian terselimuti rindangnya hijau lumut rerumputan–berjajar rapat melingkar untuk menghadang segala jenis mara bahaya yang mungkin ada.
Milyaran pasir putih dominan meramaikan sekitaran bibir kawah. Makin dekat, makin jernih airnya terlihat. Kabut menyembunyikan keindahan warna hijau emerald dari alang-alang di bagian bawah tebing. Pada beberapa titik, ada asap yang menggambarkan dahsyatnya gejolak panas yang ditahan perut bumi berjuta tahun lamanya.
Pepohonan beranting kecil dengan dedaunan ala kadarnya tertancap tak beraturan melengkapi asrinya suasana. Ada hal lain yang coba ditangkap oleh silia-silia pada hidung siapapun yang melintas, termasuk Arunika.
“Agak bau..”ujar Arunika, selagi langkahnya terus membawanya turun dan mendekat pada air.
“Bukan agak, memang bau. Familiar dengan bau apa?”
Arunika memastikan apa yang dideteksinya adalah benar. Memorinya mengantarkannya pada pengalaman di laboratorium eksperimennya. Ini adalah riuh dari bertautnya ratusan atau bahkan jutaan keluarga senyawa sulfida.
“Telur busuk?”
“Kentut.”
“Kentut siapa?”
“Ya, kentut manusia dong Arunika. Emang ada kentut mahluk lain yang bisa kita tahu aromanya?”
“Ih, jorok. Ini tuh bau belerang. Jadi, apapun yang ada belerangnya, ya baunya seperti ini.”balas Arunika mencoba memindai barangkali ada spot dimana ia bisa menyusun kesimpulan.”Aku mau merenung di jembatan. Agak sulit, karena bau ini.”
Dua hal yang telah dipelajarinya adalah dua kepribadian yang tak banyak ia jumpai pada sebagian besar tipikal Harissadananta, termasuk orangtuanya. Dengan kuasa, mereka tak perlu bersusah payah untuk menempuh proses panjang demi menggapai sesuatu, karena kalau ada cara cepat mengapa harus memilih yang membutuhkan waktu lebih lama? Padahal, pada proses merangkak menuju sesuatu yang kita inginkanlah yang memaksa keluar banyak mutiara-mutiara kehidupan bersembunyi untuk jadi pelajaran.
Dari paduan rasa lelah, kecewa, sedih, marah, gundah, lara, kita akan bertemu dengan rasa bahagia ketika telah sampai di ujung perjalanan.
Berada di posisi ekonomi yang stabil berpuluh tahun lamanya, membuat keluarganya seringkali merasa keadaan akan selalu sama. Sejauh ini, ya benar juga. Tapi, perasaan itulah yang mengakarkan perasaan jumawa. Padahal dengan semakin diatasnya posisi mereka, maka hantaman ombak ujian yang akan diberikan akan sepadan pula. Jika kita merasa sedikit saja angkuh terhadap apa yang kita miliki dan memandang rendah pada siapapun yang tidak seberuntung kita, akan dengan mudah kita dihancurkan oleh perilaku kita sendiri.
Harusnya manusia tidak punya ruang untuk menyombongkan diri. Memang dibandingkan dengan siapa dia bisa merasa jadi ‘yang paling’?
Lalu, apa yang harus ia ambil dari perjalanannya di sini? Jangan sampai hanya memori bau menyengat saja yang ia bawa pulang. Ingin menjadi seperti apakah ia nantinya? Kemampuan apa yang harus dimiliki seorang Harisssadananta menghadapi dunia yang bentuk kekejamannya seringkali diluar nalar manusia?
Si pemandu menghampirinya seolah-olah mendengar batin Arunika yang meminta bantuannya.
“Apa yang akhirnya membuat kawah ini sanggup menahan dorongan energi panas di perut bumi untuk tidak memuntahkannya dengan sengaja ke dunia? Ia tahu kapan harus meledak-ledak kapan harus diam tergenang. Apa yang akhirnya membuat seorang manusia mampu mengendalikan amarahnya ketika hal itu menggebu-gebu ada dalam benaknya, tanpa harus meluapkannya secara paksa pada orang-orang di sekitarnya?”
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..”
“Aku tahu… dan semoga ini benar.”timpal Arunika memejamkan kedua matanya. Mencoba menajamkankan kembali bisikan bebatuan, rumput, dan apapun yang coba menyampaikan sesuatu padanya.
“Kelembutan hati. Kebijaksanaan pikiran."jawab Arunika menatap damainya peleburan warna putih-hijau-biru di hadapannya."Kita selalu bisa memilih antara kebaikan dan keburukan. Jika menahan, kita berarti pilih yang baik. Jika meledak, maka sebaliknya.”
Si pemandu mengangguk-angguk.
The third Harissadananta’s future skill to unlock : be kind and in one package–wise!
Petualangan Arunika
Kepingan 3 - Stone Garden, Padalarang, Jawa Barat
Sesuai pesan nenek, ‘program’ harus tetap berkoridor pada aturan keluarga Harissadananta, yaitu memastikan anak gadisnya pulang sebelum pukul 5 sore. Santun kepada orangtua tetap jadi nomor satu. Sepulang dari tahap mengaktivasi panca inderanya untuk lebih peka dalam menyingkap tabir, Arunika merasa semakin terpacu dalam mengupas satu demi satu pesan nenek yang dititipkan pada tiap-tiap tempat baru yang akan ia kunjungi.
Di tengah deburan rasa ingin tahu yang menggebu, ada satu hal yang terus mengusiknya dari awal : siapa sebenarnya si pemandu itu? Rasa-rasanya, tak ada satu episode pun dalam hidup neneknya bercerita soal pria yang hobi memakai jaket parasut ini.
Kali ini ia ditemani sepasang nike air force putih ukuran panjang kaki 24 senti yang baru diantarkan sebuah jasa titip pembelian dengan ongkir yang hampir menyamai harga barangnya. Arunika hanya diberi petunjuk bahwa ia akan mengeluarkan kalori yang mungkin berlipat ganda dibanding hari sebelumnya. Kira-kira akan kemanakah ia?
Tempat petualangan kedua : Taman Batu Purba (Stone Garden)
Untuk membuat perjalanan ini tetap rahasia, sebelum kembali ke rumah mewahnya di daerah Cikutra, Arunika wajib mengganti bajunya. Jika mba nomor 2 mendeteksi ada kotor pada kaos giordano tosca, cacat pada sepatu puma merah mudanya, atau goresan pada ransel hermes hadiah ulang tahunnya saat umur dua puluh selepas pulang dari taman hutan raya kemarin, ia mungkin akan menghilangkan kesempatan untuk bisa berpetualang lagi hari ini.
“Kamu yakin ini aman?”tanya Arunika mulai panik ketika harus–bersama dengan beberapa belas orang asing lain–menaiki sebuah truk terbuka setelah satu jam perjalanan dari Stasiun Bandung mereka berdua akhirnya turun di Stasiun Padalarang.
“Aman. Kamu masih gak percaya sama saya?”
Entah karena inderanya yang jadi lebih sensitif ataukah memang dugaannya tepat, jalanan mendadak sunyi dari keramaian lalu lalang kendaraan bermesin lalu dalam sekejap seperti bergeser dimensi ke jalanan lengang setapak yang berdebu. Di sekelilingnya, menjulang bukit-bukit putih dan tebing bebatuan, barisan truk warna-warni dan sekawanan manusia yang semuanya seolah-olah hanya seukuran jari kelingkingnya dari jarak pandangnya saat ini.
Di horizon yang sama, terhampar hijaunya vegetasi pohon pada bukit dan gunung yang menyiratkan panjangnya perjalanan untuk bisa merengkuhnya dari jarak dekat. Sebagai penggenap keindahan, diatasnya, langit memantulkan warna biru sempurna tanpa cela.
Langit tidak perlu menjelaskan dirinya tinggi. People know you’re good if you are good.
Ada hal lain yang memecah syahdunya di tengah menikmati sajian alam sekitar. Dengan posisi duduk berdampingan di truk terbuka dengan si pemandu, semburat matahari tak sengaja menegaskan terbentuknya sebuah lesung pipi–di sisi kiri–yang terukir pada wajah pemiliknya jika ia merapatkan kedua bibir secara sengaja atau sedang tersenyum seperti saat ini, sebelum mata mereka berdua jadi beradu.
Owalah, manis juga.
“Siapa yang manis? Saya?”
“Eh?”
“Tadi kamu kayak ngomong ‘manis juga’, abis ngeliatin apa?”
Seperti ada yang mendengar alarm rasa paniknya untuk bisa diselamatkan dari situasi kikuk tak tertahankan ini, tuas rem ditarik supir truk tanpa peringatan setelah mereka sampai di kawasan yang disebut sebagai Citatah. Dahi Arunika berkerut sekaligus menatap kedua nike putihnya yang menahannya tidak turun dari truk.
“Kita… naik ke atas?”
“Kenapa? Takut sepatu barunya rusak?”tanya si pemandu.”Ya tugasmu lah jagain supaya dia bisa bareng-bareng kamu selamat sampai puncak. Meskipun ini bukit biasa, tapi makna yang bakal kamu dapet nanti, akan luar biasa. Ayo, jangan manja.”
Dengan tidak yakin, Arunika memulai pendakian pertamanya. Tapi, apakah program ini sengaja didesain pada musim hujan? Ia jadi harus susah payah menjaga keparipurnaan sepatu impor barunya yang mulai terciprat satu dua titik genangan air yang diinjaknya sendiri atau pemberian cuma-cuma dari orang lain. Semakin ke atas, langkahnya semakin berat. Setiap kali ingin menjeda untuk sesaat mengambil nafasnya yang perlu diisi ulang, ia pasti mendapat teriakkan untuk segera berjalan lagi.
Perbedaan massa, ukuran, usia, dan jenis dari bebatuan yang ada menyebabkan signifikansi perbedaan tekstur pijakan tanah di medan dakian. Perlu konsentrasi penuh bagi seseorang yang seumur hidupnya tidak pernah berjalan di jalanan vertikal dengan kemiringan seperti ini.
Di detik-detik saat keringatnya mulai membasahi seluruh sisi bajunya, Arunika terkesiap dengan semakin dekatnya ia dengan wujud batuan raksasa yang sedari tadi telah ada disana menunggu mereka. Di sekitarnya, banyak ruang tersisa untuk merambatnya ilalang dan rerumputan yang sebagian mulai menguning meramaikan puncak yang menjadi tujuan utama orang-orang yang bersamanya sampai ke sini.
“Hey Arunika! Jangan ngelamun begitu.”ujar si pemandu.
“Aku ini lagi terpukau…”
“Tapi lebih kayak melanga-melongo gitu kulihat-lihat. Kendalikan wajahmu. Ayo kita naik lebih atas lagi.”
Jarak Arunika dan langit tidak pernah sedekat ini. Ia bahkan bisa saja meraih awan-awan tipis yang berpencar bebas sesuka hati, pasrah tertiup angin di satu jam menuju berkumandangnya adzan dzuhur. Berhasil menjinakkan takutnya, akhirnya ia berpijak pada salah satu tebing batu. Makin berani ia berdiri, makin kencang angin yang menghampiri. Semakin tak siap ia dengan hantaman angin, semakin mudah tubuhnya digoncang tanpa ampun.
Beginikah manusia jika posisinya semakin di atas? Semakin akan banyak bertemu hembusan angin kencang. Jika angin itu ujian, maka makin tinggi posisi manusianya, makin besar proporsi ujiannya.
Satu-satunya cara adalah bukan menentang angin, tapi merunduk.
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung..”
Kita tak pernah benar-benar menjadi yang ter. Terkaya. Terpintar. Tercantik. Terbaik. Seketika bergeser ke tempat lain, kita akan selalu menemukan yang lebih. Maka seharusnya kita tidak punya ruang untuk merasa ‘diatas’ yang lain.
“Sudah dapat kesimpulan dari hari ini?”
Arunika terlihat sibuk mengabadikan semua momen langka ini dengan ponsel logo apel tergigit keluaran terbaru seraya mengangguk yakin.
The second Harissadananta’s future skill to unlock : (always) be humble!
Petualangan Arunika
Kepingan 1 - Rumah Keluarga Harissadananta, Bandung, Jawa Barat
Jika harus dibagi 2 kelompok besar, mungkin manusia akan terbagi menjadi kelompok yang beruntung dan tidak beruntung. Kelompok beruntung akan memiliki karakteristik punya harta yang yang dipindahkan secara fungsional merunut pada silsilah keluarga. Kelompok tidak beruntung adalah yang harus berusaha lebih karena tidak adanya jalur perpindahan harta dari generasi sebelumnya. Arunika Harissadananta–seorang gadis keturunan murni Sunda–harus sangat bersyukur karena sedari lahir masuk ke dalam kelompok orang beruntung.
Fasilitas yang ditawarkan padanya sejak lahir, tidak main-main. Semuanya telah terukur sempurna untuk bisa ia nikmati bahkan sampai nanti menikah. Tinggal di sebuah rumah dengan cat putih bersih yang selalu dipulas ulang tiap bulan, lantai marmer coklat mengkilap yang tak pernah absen di lap tiap hari, dengan segala furniture kelas atas yang diperoleh dengan harga orisinil tanpa harus menunggu potongan harga.
Arunika adalah anak pertama dari pasangan Ayu dan Candra Harissadananta yang disusul dengan dua adik kembarnya. Penghuni rumah lainnya adalah dua orang pembantu, satu orang satpam, supir dan petugas taman.
Tumbuh dengan keadaan serba aman dan nyaman, ternyata lambat laun menimbulkan gejolak dalam batinnya selama menapaki kehidupan memasuki kepala dua. Akan menjadi penerus seperti apakah ia nantinya? Jika melihat keadaannya saat ini, ia bahkan khawatir sendiri. Tidak pernah kemana-mana, teman hanya segitu-gitunya, pengalaman sangat apa adanya. Keluarga ini butuh sesuatu yang baru untuk diestafetkan ke generasi selanjutnya.
“Arunika, jangan lima sore harus sudah pulang, kecuali les…”
“Arunika, jaga makanan. Jangan makan sembarangan, mama gak mau kamu makanan yang pinggiran gitu ya.”
“Arunika, jangan naik motor. Apalagi kepanasan atau kehujanan. Kulit kamu nanti jadi rusak. Dah, dianter saja sama supir.”
“Arunika, kalau ada teman baru yang diluar sekolah bilang sama mama atau papa. Biar kita pastikan dia bukan orang jahat.”
“Arunika, kemana-mana harus diantar pak supir atau mba ya.”
Kalimat yang semula memang memanjakannya, lama-lama terasa mengekangnya. Ingin sekali rasanya Arunika melepaskan barang sebentar semua kemudahan ini, tapi dimana letak syukurnya jika ia begitu?
Dari yang ia paham, berada di zona nyaman, tidak akan membuatnya banyak belajar.
Siapapun yang mendengar kata ‘Harissadananta’ pasti langsung terasosiasi dengan bagaimana aliran harta yang tak hentinya mengalir semenjak generasi pertamanya. Dari generasi ke generasi, semua hal harus dijaga dengan baik termasuk keturunan selanjutnya. Budaya keluarga, menjadi salah satu tameng yang digunakan sebagai bentuk perlindungan. Hanya, di zaman serba digital dan terbuka ini, yang mereka sebut budaya sudah tak banyak relevan. Termasuk tak mengizinkan keturunan mudanya mengeksplorasi dunia yang berujung rasa tidak kenalnya mereka pada sekitar, seperti yang dirasakan Arunika.
“Aku harus pergi."batin Arunika setiap malam. Menatap langit malam yang menyembul dari balik jendela kamarnya yang super besar dengan tirai mahal diimpor langsung dari Singapura. Tapi, kemana? Lalu, dengan siapa?
Entah ini adalah bentuk pengabulan doa atau bukan, tapi dalam hitungan detik, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Sebuah paket yang telah lolos dari pemindaian satpam dan pembantunya mendarat meja kamarnya. Sebuah kotak kecil dengan bungkus koran.
"Dari nenek. Katanya, seminggu lalu sehabis acara 100 harinya nenek, ada kotak ini di kamarnya. Buat kamu."ujar mba nomor satu, yang masa kerjanya lebih lama dibanding mba nomor dua.
Seketika badan Arunika menghangat. Neneknya adalah salah satu pendengar terbaiknya. Salah satu Harissadananta yang punya kemiripan jiwa dengannya. Tidak begitu tertarik dengan harta dan selagi muda memang suka melanglang buana. Begini pesan nenek :
Berjalan jauh lah! Jangan sesekali, dua tiga atau puluhan kali, lebih baik! Memang banyak yang kita tidak bisa ubah. Jadi, ubahlah yang bisa diubah.
Sebuah situasi tidak menguntungkan baginya adalah saat ini sang nenek telah berpulang terlebih dahulu. Sebuah peristiwa duka yang cepat, seakan tak diberikan pertanda apapun hingga tak ada wasiat atau pesan terakhir yang ia terima. Makin terasa terkurunglah ia disini.
Kedatangan kotak ini membuatnya terkejut. Selembar kertas bertuliskan nomor telepon yang harus segera ia kirimi pesan sesuai dengan format yang diminta. Diiringi kerinduan pada sang nenek yang kembali membuncah setelah coba ia kelola hampir tiga bulan lamanya, ia tak berpikir panjang untuk segera menghubungi nomor itu.
Ting tong!
Tak berselang setelah centang dua abu-abu dari pesan yang dikirimnya berubah menjadi centang dua biru, sebuah surel masuk ke dalam kotak masuknya.
From : kamuakantahusegera@gmail.com
To : arunika.harissadananta@gmail.com
Subject : Hadiah Ulang Tahun Arunika
"Halo, Arunika! Selamat (6 hari menuju) ulang tahun ke 22! Senang mendengarnya. Sesuai dengan permintaan nenek, untuk membuat persiapan umur 22 tahunmu menjadi lebih menarik, kami punya program untukmu. Silakan balas pesan ini dalam waktu 30 menit jika kamu tertarik tapi jika tidak, maka akan kami anggap kau durhaka pada nenekmu sendiri. Terimakasih.”
Kebingungan bercampur penasaran, membuat Arunika bingung harus membalas apa. Ia tidak punya prediksi sama sekali apa maksud ini semua. Tak pernah ada clue apapun, bahkan dari neneknya sendiri. Apakah ini benar-benar dari neneknya? Bagaimana cara validasinya?
“Ehem, ya aku tertarik. Tapi kalau kamu hanya orang iseng denganku dan keluargaku, aku punya kekuasaan untuk bisa membuatmu kapok.”
Teng. Email lain.
“Kenapa begitu curiga? Tenang. Bisa kami jamin aman. Nenekmu sudah mengatur semuanya. Tujuan kami hanya satu, mempersiapkanmu jadi dirimu yang kamu inginkan. Perjalanan ini akan dimulai besok. Silakan kau konfirmasi untuk melanjutkan atau tidak.
Aturannya adalah jangan pergi pakai supir, jangan membawa kartu ATM, jangan pakai baju formal, santai saja bawa minimal 3 pakaian ganti. Terakhir bawa dirimu sepenuhnya, jangan ada yang tertinggal di rumah.”
Ledakan hormon dopamin seakan membanjiri dirinya. Mengalir ke sekujur tubuhnya dengan deras, membuatnya begitu bersemangat. Dalam dirinya, ada identitas yang perlu diperjelas dengan diajak melihat dunia yang lebih luas. Ia hanya ingin mengubah apa yang bisa diubah. Memperbaiki generasi Harissadananta selanjutnya.
[ CATATAN (MENJELANG) PERNIKAHAN ]
Lampu temaram berpendar dari sebuah kamar bercat putih dengan poster usang Super Junior versi 10 tahun lalu. Tentu poster itu bukan milik gadis dibalik mukena yang sedang sibuk mencatat melainkan milik gadis lainnya yang berusia lebih tua 6 tahun.
“Adek, sudah semua dicatet?”
Hanya ada balasan anggukan mengandung rasa bingung.
“Coba diulang.”
“Oke. Ehem. Pertama, jangan ekspektasi lebih soal keindahan pernikahan.. Karena, adek, cinta gak selamanya indah~"jawab si adek membubuhkan nada khas. Si kakak hanya tertawa.
"Kedua, adek harus paham kalau punya mertua dan keluarga baru yang baik, impian semua. Tapi mungkin ga semua akan punya yang seperti itu. Adek harus siap lapang dada.”
“Terus, adek akan banyak hal ketemu hal baru dalam pernikahan. Kebiasaan suami yg mungkin diluar nalar adek, begitu pun sebaliknya. Karena, gak ada yang sempurna. Makanya, adek harus siap terima.”
Si adek terdiam. Mencoba melumat tiap kata agar terserap dengan baik.
“Akan banyak sekali terjadi beda pendapat mulai dari cara pengelolaan uang dan hutang, pola asuh anak, yang bisa berujung jadi hujan badai, angin ribut, gunung meletus.. eh kok ini bencana alam semua ya kak?”
“Yah, memang begitu.”
Rasanya, makin sesak nafasnya untuk menghadapi kata pernikahan setelah hari ini.
“Kok berhenti?”
“Yang ini berat. Langkah awal."jawab si adek. Matanya sudah membidik susu pisang yang dibelinya dari minimarket terdekat dari Nam-gu–tempat malam ini ia menginap–tapi belum bisa ia minum saat ini.
"Berat gak berat, adek bakal lewatin.”
“Adek harus cari dulu calonnya.”ujar si adek membenamkan wajahnya ke buku.
"Sip! Sama kakak nambahin lagi sedikit, ikhtiar banyak caranya. Banyak banget. Tapi jemput jodoh adek pakai cara yang paling Allah suka. Memantaskan diri secara tidak langsung juga kita menyeleksi jodoh kita akan seperti apa. Itu pesenku. Catet lagi.”
Sungguh bukan hanya menjadi malam yang dingin di Gwangju, tapi juga malam yang panjang untuk gadis itu. Bukan hanya isi catatannya yang penuh, tapi juga isi kepalanya.
#5CC #5CC10 #DioramaCareerClass #bentangpustaka
Ilustrasi : walliapp


