Kepingan 6 - Rumah Keluarga Harissadananta, Bandung, Jawa Barat
Mungkin ada benarnya jika tak mendengarkan perkataan orangtua, kita pasti kena batunya juga. Sejak kecil diingatkan untuk tidak memakan makanan yang bukan diproduksi langsung di dapur dengan peralatan fancy milik keluarga Harissadananta, ia kemarin nekat memakan semuanya dalam satu waktu sekaligus bahkan tanpa memilah terlebih dahulu. Terbawa suasana pembicaraan oleh si pemandu, ia akhirnya tak bisa mengendalikan diri sendiri dan hari ini berakhir di kamarnya. Kondisinya lemas, wajahnya pucat, tenaganya seolah baru saja tersedot sesuatu hingga tak menyisakan sedikit pun energi untuk beraktivitas.
Sudah hampir delapan kali sejak pagi ini, ia bolak-balik kamar mandi. Ia merasakan lilitan cukup kencang di perut yang berujung pada pengeluaran isi dari saluran pencernaannya yang padahal menurutnya sudah tak ada lagi isinya karena hampir setiap jam terkuras dengan begitu cepat. Padahal, baru kemarin lidahnya bersalaman dengan aman dan damai dengan makanan-makanan yang ternyata punya rasa lezat diluar prediksinya sendiri.
“Jujur deh sama mama, kamu makan apa? Mama paham riwayat kesehatan kamu, belum pernah kamu diare separah ini..”ujar Ayu Harissadananta–terlihat cemas, panik, dan marah terefleksi dari bagaimana cara ia berbicara.
“Enggak aneh-aneh, ma. Tapi, mungkin aku aja yang ceroboh gak pilih-pilih makanannya dulu. Kemarin kepepet karena aku posisinya laper banget.”balas Arunika sekenanya.
“Oke, mama sudah panggilkan dokter. Ditunggu aja.”
Arunika segera meraih ponselnya dan mengirim pesan lewat satu-satunya sarana berkomunikasi–yaitu email–dengan orang yang ia pikir seharusnya bertanggung jawab soal hal ini. Si pemandu. Ya ampun, kenapa sampai hari ini ia tidak terpikir untuk menanyakan namanya? Bukankah perkenalan nama di awal itu sebenarnya adalah krusial?
“Aku diare ini, sedih deh..”tulis Arunika pada laman obrolan di gawainya. Kemudian tak lama ia kembali menghapusnya.”Tau gak? Gara-gara kemarin, aku diare..”lagi, Arunika menghapusnya dan menggaruk-garuk rambutnya, kebingungan kata-kata apa yang harus ia bilang. Bagaimanapun, sebenarnya dia tidak salah juga, tapi ya salah juga sedikit.
“Aku dapat hukuman langsung dari Allah karena durhaka sama orang tua. Sudah kubilang, merubah budaya keluarga itu susah.”
Terkirim.
Di tengah kondisi lemasnya, ia mencoba untuk meraih surat yang diterimanya seminggu yang lalu di bagian atas lemari baju setinggi 3 meter dengan bantuan sebuah kursi. Perlahan, kakinya menaiki kursi tersebut disusul tangannya yang coba meraih kotak tempat ia meletakkan kiriman terakhir dari neneknya itu. Belum sempat ia memastikan kertas itu ada di tangannya, tiba-tiba ia merasakan turbulensi yang tak biasa di sekitarnya. Kepalanya seolah diputar-putar dengan cepat dan beberapa detik berlangsung begitu lama dengan potongan cahaya lampu yang seolah redup-nyala diluar kendalinya. Dalam hitungan detik, Arunika ambruk ke lantai.
–
Ada sayup-sayup suara anak-anak kecil berlari tertangkap oleh daun telinganya. Entah ada dimana letaknya, suara gemericik air ikut ada di antara riuhnya suara tadi. Lewat kulit tangannya, ia merasakan ada hangat yang mencoba menggapai tubuhnya. Di tengah sapaan dari hangat yang ia pun tak mengerti berasal dari mana, ia rasakan seseorang ikut mengusap-usap pelan punggung tangannya. Tekstur kulitnya cukup lembut, maka ia meyakini bahwa orang tersebut adalah wanita.
“Arunika..”akhirnya sebuah suara membuat kepekatan matanya tiba-tiba melonggar hingga ia samar-samar bisa memastikan bahwa memang ada orang lain di ruangan ini selain dirinya. Tapi, dimanakah ia? Mengapa yang terlihat adalah tembok-tembok bernuansa putih polos tanpa hiasan dinding? Semakin jelas penglihatannya, ia memastikan bahwa ini bukan kamarnya dan dengan terkejut, ia melihat sang nenek duduk di pinggiran ranjang kasurnya.
Sebentar, apakah aku sudah menyusul nenek?
“Bagaimana, rasanya berjalan-jalan? Keluar dari lingkungan serba nyaman di rumah?”tanya sang nenek, dengan suara jelas. Arunika berusaha untuk bangun dari posisi terbaringnya. Masih diantara rasa tidak percaya bahwa akhirnya ia kembali bertemu dengan neneknya, ia seketika memeluk neneknya cukup kencang. Benar, ini nyata, bukan? Ia bisa merasakan aroma tubuh, derajat hangat, dan ciri yang khas pada neneknya.
“Lebih dari yang pernah aku bayangkan, nek. Aku bahkan merasa aku terlalu banyak berputar di satu titik yang sama semenjak kecil. Aku gak mau menyalahkan siapapun atas itu, termasuk mama dan papa. Karena mereka pun ada di situasi ini bukan karena permintaan, tapi tuntutan dari Harissadananta terdahulunya.”jawab Arunika, masih dalam setengah pelukan neneknya.
“Ini aku sekarang sudah bisa kumpul sama nenek lagi ya?”
“Ya belum, ka. Besok kamu ulang tahun.”jawab nenek kemudian perlahan melepaskan pelukannya karena ingin menatap cucu yang ditakdirkan lahir dengan kemiripan hampir identik dengan dirinya itu dengan seksama.”Kamu sudah diberi kesempatan belajar sesuatu yang tidak dipelajari Harissadananta yang lain. Nenek sengaja, karena hal seperti itu terlihat remeh padahal penting, bukan? Siapa sangka dari hanya berjalan di tengah hutan kamu bisa memaknai soal perjalanan jauh? Siapa sangka dari makanan pinggir jalan, cimol ya? Bisa bikin kamu menyadari pentingnya peduli soal keadaan sekitar. Ya, meskipun sekarang kamu jadi diare begini.”
“Arunika, hidup tidak akan statis. Ia dinamis. Keluarga kita belum ada di dalam zona pemikiran yang sama, maka mereka bisa jadi ada dalam bahaya karena tidak bersiap soal apapun. Kita tidak tahu di lima atau sepuluh tahun ke depan, dengan perubahan dunia yang semakin menjadi, barangkali nama kita sudah tidak dikenal orang lagi. Maka, merendahlah dan berbaurlah. Kamu sudah mempelajari dengan baik, lewat bantuan orang yang kamu sebut pemandu.”jelas nenek di tengah-tengah suara paraunya karena usia.
“Si pemandu itu siapa sih nek sebenarnya? Dia betulan teman nenek?”
Neneknya mengangguk.”Teman spesial karena dia sudah dalam proses panjang melalui seleksi sampai akhirnya terpilih buat ketemu kamu. Diantara tujuh miliar manusia di bumi, kita akan ditakdirkan untuk bersama dengan seseorang, Arunika. Maka, pilihlah dengan bijak. Nah, sebelum area tempat kamu mencari akan dipersempit oleh kriteria Ayu dan Candra, nenek sudah pilihkan agar kamu bisa tinggal memutuskan, mau bersamanya atau tidak. Atau mau cari lagi. Karena, teman hidup kita selain cerminan, adalah pilihan.”
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”
Arunika tidak siap dengan kalimat-kalimat di bagian akhir. Ia tiba-tiba jadi takut salah bersikap jika mereka berdua bertemu lagi.
–
“Ini diminum tiga kali sehari ya bu, sekali minum dua tablet. Kalau yang ini, sesudah makan satu tablet saja, dijeda kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Diberikan sampai gejala diarenya hilang ya bu.”jelas dokter yang menjadi one-call-away-doctor keluarga Harissadananta kemudian meletakkan tiga plastik obat berisi masing-masing satu strip tablet.
Hampir saja Arunika melompat dari kasurnya, begitu melihat si pemandu kini berdiri nyaris hanya terpisah satu atau dua hasta darinya. Tetap, dengan setelan parasutnya. Kini berwarna hijau army. Ah, hangat sekali bertemu dengan nenek, meskipun itu semua ia alami melalui mimpi.
“Kok?”
“Cepat-cepat taubat ya anak durhaka. Kalau nggak, nanti kamu dikutuk.”ujar si pemandu. Sebentar, apakah ia berpindah lagi ke dimensi mimpi yang lain? Tapi, kali ini ia bisa memastikan dinding-dinding putih yang baru saja dilapisi sebuah wallpaper besar yang menyulap sekeliling kamarnya jadi miniatur tata surya. Selain itu, tingkat keempukan kasur ukuran king dengan springbed yang dijahit oleh seorang penjahit tersohor di New Zealand juga terasa begitu nyata.
“Kamu, bisa masuk gimana caranya? Emang dibolehin?”
“Boleh.”jawab si pemandu santai.”Aku kan masuknya sopan, dengan permisi, izin dulu. Termasuk sekarang sama kamu, baiknya kita kenalan dulu. Namaku, Fadlan. Maaf baru sempat memperkenalkan diri. Agenda kita kemarin sibuk banget kan?”
“Aku kan sudah ajak kamu kenalan pas di awal. Kamu bilang nanti.”
“Kadang sesuatu ditunda, supaya hasilnya lebih baik.”Fadlan menyengir.”Oh ya. Selamat mengulang bulan yang ke 276 kalinya.”ujar si pemandu sebelum ia sempat menambahkan sepatah dua patah kata.”Kalau kamu pengen memperbaiki generasi selanjutnya, kamu butuh teman untuk… membuat generasinya dulu kan?”
“EH,”kan. Arunika membatin. Ia jadi salah tingkah begini.
Nek, aku pilih yang ini saja. Pejalan jauh, cek. Rendah hati, cek. Baik dan bijak, cek. Lengkap.